"Logika Sesat Anies Baswedan siap Menipu Jutaan Warga DKI... Pocong pun kalah seram..
Bagi orang yang malas berpikir, kata-kata Anies Baswedan (Anies) kerap dianggap setara dengan ayat-ayat suci. Pemilihan katanya yang tepat, argumentasinya yang tertata rapi, ditambah gerak tubuh dan ekspresi wajah yang serasi membuat pendengar seperti tersihir. Tanpa pikir panjang mereka bisa serta merta jatuh hati dan bilang: ya, pada Anies.
Ada dua frase yang hampir selalu dipakai Anies dalam orasi maupun debat di Pilgub DKI, yaitu frase “bukan hanya …”, dan frase “yang tak kalah penting…” Begitu rapinya Anies menata kedua frase itu di setiap berbicara di depan umum sehingga pendengar yang malas berpikir sudah pasti langsung meng-iya-kan apa yang di-iya-kan Anies atau menidakkan apa yang ditidakkan Anies.
Ini bisa terjadi di kalangan mana saja. Bisa terjadi kalangan pendukung Anies, pendukung Ahok, maupun anggota masyarakat pada umumnya. Orang-orang semacam inilah yang gampang terbuai, gampang dibujuk, gampang terprovokasi, dan gampang ikut arah angin.
Frase “bukan hanya…” dipakai Anies untuk mengeliminasi pandangan lawan debat. Frase itu mestinya melawan pandangan yang main mutlak-mutlakan. Cocoknya di situ. Kalau sekedar menunjukkan adanya faktor atau variabel lain dari yang dikatakan lawan debat, penggunaan frase “bukan hanya….” tentu tak tepat. Melawan logika dan alur pikiran sehat. Tapi Anies, biasanya tak peduli. Ia selalu memakai frase itu untuk membantah program atau argumen lawan debat.
Menyerang bayangan sendiri
Coba simak apa yang dikatakan Anies ketika debat dengan Ahok pada acara Mata Najwa, Senin, 27 Maret 2017. Ada banyak kesesatan logika Anies yang sangat berbahaya dan merusak cara berpikir anak-anak bangsa bila ditelan mentah-mentah. Beberapa di antaranya akan dikemukakan berikut ini.
Menanggapi Ahok tentang prioritas program, Anies bilang: “yang dibutuhkan warga Jakarta bukan hanya pemimpin yang kuat, bukan hanya birokrasi yang kuat, tetapi justru warga yang kuat, warga yang berdaya, warga yang bisa terlibat…”. Selain itu, yang dibutuhkan Jakarta adalah keberpihakan, yaitu pemimpin yang berpihak kepada kaum yang rentan, tak berdaya dari segi ekonomi, pendidikan, maupun lainnya.
Penjelasan itu tentu saja aneh. Pasalnya, pada pernyataan sebelumnya Ahok tidak pernah menyatakan bahwa satu-satunya kebutuhan adalah pemimpin yang kuat atau pemerintahan dan birokrasi yang kuat. Yang dikatakan Ahok adalah untuk bisa memenuhi kebutuhan otak, perut, dan dompet rakyat ada syaratnya. Pemerintah dan birokrasi harus tertata baik, transparan, dan profesional. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemimpin atau pemerintah dan birokrasi bukanlah satu-satunya kebutuhan Jakarta. Hal-hal tersebut merupakan prasyarat atau alat untuk bisa mewujudkan kebutuhan masyarakatnya.
Itulah yang dimaknai Anies sebagai “hanya” dan satu-satuhnya. Di sini tampak bahwa Anies mengkonstruksi sosok Ahok dengan rupa buruk sebagaimana dibayangkan Anies sendiri, bukan sosok Ahok yang sesungguhnya. Lantas, Ahok hasil konstruksinya itu diserang tanpa ampun oleh Anies.
Tentu saja serangan tersebut tak pernah mengenai diri Ahok. Sebab sasaran serangan Anies bukan Ahok, tetapi Ahok dalam bayangan Anies sendiri. Dengan kata lain, Anies menyerang bayangannya sendiri.
Bagi-bagi uang
Yang bikin orang normal geleng-geleng kepala adalah program KJP plus Anies yang disebutnya akan diberikan kepada semua anak usia sekolah. Padahal KJP ini sebelumnya tidak asal diberikan. Tidak diumbar. Ia diberikan untuk memotivasi anak usia sekolah memasuki atau melanjutkan pendidikan pada lembaga pendidikan formal.
Tapi bagi Anies, hal semcam itu tidak adil karena hanya memerhatikan anak-anak usia sekolah yang bersekolah. Oleh sebab itu ia berencana mencabut peraturan gubernur DKI yang membatasi pemberian KJP tersebut, dan berencana memberikannya kepada semua anak usia sekolah.
Kelihatannya jalan pikiran Anies baik dan adil. Seakan-akan memerhatikan nasib semua anak dan memberikan mereka uang, baik yang bersekolah maupun yang tidak bersekolah. Tapi apakah benar adil? Mendidik?
Inilah yang dikatakan Ahok merusak. Tidak mendidik. Malahan menjauhkan KJP dari tujuannya semula. KJP tidak lagi menjadi alat memotivasi anak usia sekolah untuk memasuki sekolah tetapi menjadi sekedar program bagi-bagi uang bagi anak usia sekolah. Anak usia sekolah sudah pasti berpikir “mengapa harus susah-susah sekolah, tanpa sekolah saja pemerintah memberikan KJP”. Sudah tentu akibat lanjutannya ialah program KJP tidak lagi berorientasi pada meningkatkan kualitas bangsa dan masa depan Indonesia.
Inilah yang dibilang Ahok tidak mendidik, merusak anak-anak, tetapi justru merupakan program unggulan dan akan dipertahankan oleh Anies. Kacau ‘kan?
Menjanjikan ruang
Dengan gaya seorang motivator, Anis melanjutkan pembeberan programnya di depan Najwa. Dia katakan bahwa penduduk Jakarta, hanya 51% yang memiliki rumah. Selebihnya, 49%, sebagian besar di antaranya adalah orang miskin maupun anak baru gede, tidak memiliki rumah.
Di sini orasi Anies sangat memukau. Dia bilang selama ini pemerintah tidak memerhatikan yang 49 persen tersebut. Mereka tidak difasilitasi untuk mendapatkan rumah. Untuk itu Anies merencanakan memberikan ruang bagi 49% penduduk tersebut dengan program pengadaan rumah dengan down payment (DP) sebesar 0 persen atau nol rupiah.
Orang waras tentu saja akan mengerutkan kening setelah mendengarkan penjelasan tersebut. Mengapa? Karena orang waras sudah langsung membayangkan kemungkinan atau kemustahilan mengadakan tanah, lokasi rumah baru bagi 49% penduduk Jakarta yang dikatakan Anies.
Mau bangun rumah di atas Waduk Pluit atau sungai Ciliwung? Tentu tak mungkin. Di atas rel-rel kereta? Pasti mustahil juga. Di lapangan Monas? Ya jelas tak masuk akal. Kalau begitu di mana ruang yang akan dipakai Anies untuk membangun rumah tersebut? Di Jawa Tengah atau Jawa Timur? Ataukah Sumatera? Kalimantan? Papua? Ini yang tak dijelaskan Anies. Dia kira, tanah di Jakarta masih ada yang bisa dipakai menjadi lokasi rumah bagi 49 penduduk. Kacau, bukan?
Untuk itu, saya menyarankan agar siapa saja yang mau berpikir dengan menggunakan otak, janganlah mau dibohongi pakai logika sesat Anies!
Ingat, saran ini hanya berlaku bagi yang mau berpikir dengan menggunakan otak, bukan dengkul!
https://seword.com/sosbud/jangan-mau-dibohongi-pakai-logika-sesat-anies-baswedan/

Kehadiran cagub DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan di deklarasi Ustazah Bela Negeri di gedung Dewan Dakwah, Jakarta Pusat, dipermasalahkan Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam) Senen. Petugas Panwascam Leli menyebut lokasi gedung tersebut berada satu lingkungan dengan masjid.
Leli hadir untuk menjalankan tugasnya mengawasi kunjungan Anies di lokasi tersebut. Leli juga mendengar langsung sambutan salah seorang ustazah dinilai menyerang pasangan cagub lainnya.
"Kalau dari kami sudah minta dihentikan. Saya pikir tadi cuma dukungan saja tanpa ada seperti menyerang, itu kan kampanye. Pak Anies nggak mesti ngomong juga, ternyata dia ngomong. Saya sudah minta timses hentikan, tapi saya nggak bisa bertindak juga," ujar Leli di gedung Dewan Dakwah, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (9/3/2017).
Acara tempat berlangsungnya deklarasi tersebut berada di aula gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia atau aula Masjid Al-Furqon. Letak aula pertemuan berada di lantai 2 gedung, dan Masjid Al-Furqon berada di lantai 3 gedung tersebut.
"Mungkin sudah ada warning dari timses bahwa ini nggak boleh di lingkungan masjid. Menurut Peraturan KPU Nomor 12, tidak boleh di lingkungan masjid, apalagi di dalam masjid. Di halaman pun atau aula tidak boleh, ini masuk lingkungan masjid," ujar Leli.
Peraturan Komisi Pemilihan Umum yang mengatur larangan kampanye di tempat ibadah diatur dalam Pasal 66 ayat 1 huruf J PKPU Nomor 12 Tahun 2016 tentang Kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Pasal tersebut berbunyi 'dalam kampanye dilarang menggunakan tempat ibadah dan atau tempat pendidikan'.
Menanggapi pernyataan Panwascam tersebut, Anies menyerahkan masalah ini kepada tim advokasinya. Namun Anies merasa lokasi yang didatangi adalah kantor gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan bukan masjid.
"Biar nanti tim advokasi yang memberikan penjelasan. Setahu saya, ini kantor gedung Dewan Dakwah," ujar Anies kepada wartawan di lokasi yang sama.
Berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pada Pasal 78 huruf i tertuang dalam kampanye dilarang menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan. Kemudian sesuai dengan Pasal 116 ayat 3, tiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana tercantum pada Pasal 78 huruf i diancam dengan pidana penjara paling singkat sebulan atau paling lama enam bulan.
https://news.detik.com/berita/d-3443089/panwascam-senen-kritisi-kampanye-anies-di-gedung-dewan-dakwah

Calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu oleh Tim Advokasi Jakarta Bersih (TAJI) atas dugaan melakukan pelanggaran kampanye Pilkada. Dalam aduannya, TAJI menduga Anies melanggar Pasal 73 ayat 1 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada.
Cagub yang diusung Partai Gerindra dan PKS itu diduga melakukan pelanggaran saat menyampaikan janji pemberian dana Rp1 hingga 3 miliar bagi tiap Rukun Warga (RW) di ibu kota saat berkampanye di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Rabu (8/3) kemarin.
"Saat itu beliau menyampaikan bahwasanya ada menjanjikan Rp1 miliar per RW, bahkan lebih akan diberikan hingga Rp3 miliar. Menurut kami itu tidak masuk akal dan mungkin arahnya mau ke politik uang. Kedua, Anies tak pernah malaporkan program kerjanya ke KPU tentang Rp1 miliar per RW," ujar advokat TAJI Aidil Fitra di Kantor Bawaslu DKI, Kamis (9/3).
Menurut catatan pelapor, tawaran program dana untuk tiap RW dari Anies disampaikan kala ia berkampanye di Markas Komando GL Pro 08, Utan Kayu Utara.
TAJI mengklaim membawa bukti berupa rekaman video dan lampiran berita tawaran uang untuk tiap RW saat menyampaikan aduannya. Mereka mendesak Bawaslu DKI segera menindaklanjuti laporan tersebut.
"Kami percaya karena Ketua Bawaslu pernah mengungkapkan itu di media, dan dia mempersoalkan kampanye AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), dan ini yang kedua kali. Peristiwa ini mestinya jadi catatan Bawaslu juga bahwa ada dua kali pelaporan kasus dan isu yang sama," tuturnya.
Bawaslu DKI berjanji akan mengusut laporan tersebut hingga lima hari ke depan. Jika terbukti bersalah, Anies-Sandi terancam sanksi administrasi pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota.

Sosok tersebut mengemukakan pelajaran yang bisa ditarik dari kemenangan Partai Keselamatan Islam atau FIS di Aljazair. Menurutnya, berdasarkan suatu analisis, FIS bisa menang lantaran mengandalkan jaringan masjid.
"Sejumlah khatib, para ulama, ustadz yang mengisi kegiatan-kegiatan di masjid, termasuk dan terutama salat Jumat, bukan hanya menyerukan ketaqwaan, tapi dilanjutkan dengan seruan-seruan politik," ujarnya.
Meski demikian, seruan politik yang dimaksud bukanlah seruan partisan.
"Kalau seruan partisan itu begini, 'pilih si A, jangan pilih si B'. Bukan seruan itu yang disampaikan. Khatib menyampaikan 'Hai kalian umat Islam. Kalian punya hak. Tiada orang lain yang akan menjaga dan menegakkan hak itu, kecuali kalian sendiri'…Saya ingin itu menjadi alat untuk mengalahkan Pak Ahok. Secara pribadi, secara pribadi," paparnya di hadapan hadirin.
BBC Indonesia berupaya menghubungi Eep Saefulloh Fatah, namun tidak mendapat respons. Akan tetapi, Vera, seorang anggota tim pemenangan Anies-Sandi membantah bahwa pasangan calon nomor tiga itu menjalankan kampanye di masjid.
"Itu sebagai tamu saja. Karena pada dasarnya mereka ke gereja atau apa, bukan berkampanye. Biasanya itu mereka jadi imam atau makmum dan diundang biasa. Kandidat lain juga begitu," sebutnya.
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39494240

Manipulasi ayat-ayat kitab suci dalam pilkada gubernur DKI Jakarta semakin brutal. Terbaru, salah seorang wanita sexy yang mengaku pengijil bernama Rita Tiara Panggabean mengklaim seluruh pendeta di Jakarta mendukung pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Alasannya, Anies mirip Yesus. “Saya memilih Anies-Sandi karena keduanya memilih hati seperti Kristus Yesus,” ujar seorang penginjil bernama Rita Tiara Panggabean dari
Barisan Anak Surga (BAS) Oikumene Ministry seperti dikutip dari akun instagram Rita Tiara
Panggabean https://www.instagram.com/p/BSbfO5elW2I/?r=wa1 yang dikutip gerilyawan di Jakarta, Selasa (4/4).
Dalam vidio itu, Rita mengaku mendukung Anies-Sandi karena memiliki hati seperti Kristus yaitu kasih. “Kasih itu lemah lembut, kasih itu murah hati, kasih itu panjang sabar,” imbuhnya.
Dia melihat karakter dan kepribadian Anies-Sandi mirip Yesus Kristus. Tutur katanya menyejukan yang bisa menyatukan perbedaan. “Kami sebagai umat Kristen yang m meninginkan agar dibawah kepemimpinan Anies-Sandi adanya kesejajaran hak kami,” tuturnya.
Berita tentang dukungan para pendeta Kristen terhadap Anies-Sandi pertama kali dilansir oleh media online milik taipan Hary Tanoesoedibjo.
Hary Tanoesoedibjo sendiri adalah pendukung dan salah satu penyandang dana bagi Anies-Sandi. Bahkan seluruh media milik taipan asal Surabaya ini diperintahkan untuk menyerang Ahok-Djarot.
Sekedar catatan, Yesus Kristus menurut ajaran Kristen adalah Juruselamat dunia dan Putra Allah. Dia adalah Penebus dosa dunia. Ini menunjuk pada kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan menuju hidup bersama Bapa Surgawi.
Dukungan terbuka wanita sexi ini terhadap Anies-Sandi menjadi bumerang bagi umat Kristiani yang dari segi jumlah sangat minoritas di Indonesia. Hal ini bisa memantik konflik baru. Maklum, politisasi SARA dalam pilkada DKI Jakarta sangat menonjol. “Membawa-bawa agama ke ranah politik saya kira itu luarbiasa biadabnya,” ujar seorang pemuda beragama Kristen, Michael saat ditemui gerilyawan di bilangan Tebet, Selasa (4/4).
Michael sangat menyesalkan sikap segelintir orang yang tamak akan kekuasaan menggunakan instrumen agama untuk mencapai tujuan. Apalagi, membandingan seorang cagub (Anies Baswedan) dengan Yesus Tuhan yang merupakan sumber kebenaran bagi umat Kristiani. “Bagi saya pribadi, menyamakan Anies dengan Yesus sangat menistakan agama Kristen. Untuk itu, saya minta pelacur-pelacur politik untuk stop menjual agama demi meraup materi (uang-Red). Ini ulah mereka yang mencari uang dengan menjual agama,” tuturnya.
Rekan Michel, Yosep Batista menilai, membawa nama agama demi mencapai kepentingan politik praktis bisa merusak kohesi sosial yang sudah terjalin baik diantara umat beragama. Pasalnya, agama itu sesuatu yang suci sehingga tidak boleh diperdagangan hanya untuk kepentingan politik “Jadi jangan merusak agama demi kepentingan politik. Nggak boleh menjual agama demi uang. Ini model politik busuk yang memecah belah umat agama,” ucapnya.
Dia menuturkan bahwa Agama Islam, Kristen, maupun agama lain mengajarkan kesantunan dan adab. Untuk itu, jangan menodai kesucian agama itu. “Perbedaan preferensi politik itu biasa dalam alam demokrasi, tapi jangan dijadikan ajang menyebar fitnah, hingga membawa-bawa agama,” tuturnya.
Tiara sendiri seperti dilansir salah satu media online pendukung Anies-Sandi menjelaskan, alasan utamanya memutuskan untuk mendukung Anies-Sandi adalah karakter kasih yang dimiliki keduanya. Sehingga meyakini bahwa Anies-Sandi memiliki komitmen untuk memenuhi hak-hak kaum minoritas.
Namun reputasi Rita Tiara Panggabean sebagai penginjil dipertanyakan banyak nitizen. Apalagi dalam akun jejaring sosial milik Rita Tiara Panggabean terpampang sejumlah photo hot yang mempertontonkan aurat sehingga membuat nitizen menganggapnya tidak layak disebut sebagai penginjil.
Bahkan sebuah akun di twitter @kawanuaDKI membantah kalau Rita Tiara Panggabean adalah seorang pendeta. Bahkan akun itu menyebarkan foto-foto Rita Tiara Panggabean dengan pose seksi dan seronok. Tentu saja umat Kristian tidak mau kalau pemuka agamanya dikaitkan dengan kelakuan Rita Tiara Panggabean. Apalagi ditambah dengan politisasi Rita Tiara Panggabean atas gereja, pendeta dan se-DKI lagi.
http://www.beritamoneter.com/pendeta-pendukung-anies-sebut-anies-mirip-yesus/

Cagub DKI Basuki T Purnama ( Ahok) dan Anies Baswedan bertarung gagasan dalam program televisi Mata Najwa di Metro TV. Salah satu yang dibahas adalah tentang program rumah murah untuk rakyat Jakarta.
Ahok mengkritisi tentang program down payment (DP) nol rupiah yang digagas oleh Anies Baswedan. Ahok menilai, tidak mungkin ada DP nol rupiah karena terbentur aturan perbankan. Terlebih, dia juga mengkritisi data Anies Baswedan yang bilang ada harga rumah Rp 350 juta di Jakarta.
Menurut Ahok, tidak mungkin pemerintah membayar Rp 350 triliun hanya untuk memberikan rumah kepada warga. Data Rp 350 T dari pernyataan Anies yang menyebut ada 1 juta warga DKI tak punya rumah dikali dengan harga rumah Rp 350 juta.
"Tidak mungkin Pemda bayar Rp 350 triliun," kata Ahok di Metro TV, Senin (27/3).
Ahok sendiri punya program khusus buat rumah tinggal bagi warga Jakarta. Bagi yang penghasilan Rp 3 juta tinggal di Rusun, penghasilan Rp 7 juta tinggal di kos, sementara Rp 10 juta tinggal di rumah.
"Kita subsidi seumur hidup (tinggal di rusun)," kata Ahok.
Anies pun menjawab dengan santai. Soal aturan, bisa dibicarakan dengan pihak perbankan. Dia yakin, aturan DP nol rupiah bisa direalisasikan. Dia pun meluruskan, bahwa data Ahok Rp 350 T tidak benar, menurut dia, yang dibantu Pemda hanya soal DP saja, bukan belikan rumah kepada warga.
"Tapi DP-nya," kata Anies.
Ahok pun kesal, dikritisi Anies tentang pembebasan pembayaran BPHTB dan PBB. Ahok menegaskan program itu bukan baru dilakukan, tapi sejak satu tahun lalu. Ahok berharap, Anies tak menggunakan janji yang tidak mungkin direalisasikan hanya demi Pilgub DKI.
"Saat itu Pak Anies belum punya niat jadi gubernur, masih jadi menteri," serang Ahok.
Anies lagi-lagi menjawab santai. Ini merupakan karakter Ahok yang tak putus asa tak memberikan solusi bagi warganya.
"Tipe yang putus asa, tidak perlu nyerang pribadi, tidak perlu emosi Pak Ahok," jawab Anies.
https://www.merdeka.com/politik/ahok-nilai-tak-masuk-akal-program-dp-rumah-nol-rupiah-anies-baswedan.html
NB: Artikel ini dibuat oleh ahmadsuro dengan tanggungjawab penuh diserahkan kepada ahmadsuro. Pihak dari situs Forumdjakarta.com tidak bertanggungjawab atas isi dari artikel ini.
(Sumber : Itusalah.com )
Ada dua frase yang hampir selalu dipakai Anies dalam orasi maupun debat di Pilgub DKI, yaitu frase “bukan hanya …”, dan frase “yang tak kalah penting…” Begitu rapinya Anies menata kedua frase itu di setiap berbicara di depan umum sehingga pendengar yang malas berpikir sudah pasti langsung meng-iya-kan apa yang di-iya-kan Anies atau menidakkan apa yang ditidakkan Anies.
Ini bisa terjadi di kalangan mana saja. Bisa terjadi kalangan pendukung Anies, pendukung Ahok, maupun anggota masyarakat pada umumnya. Orang-orang semacam inilah yang gampang terbuai, gampang dibujuk, gampang terprovokasi, dan gampang ikut arah angin.
Frase “bukan hanya…” dipakai Anies untuk mengeliminasi pandangan lawan debat. Frase itu mestinya melawan pandangan yang main mutlak-mutlakan. Cocoknya di situ. Kalau sekedar menunjukkan adanya faktor atau variabel lain dari yang dikatakan lawan debat, penggunaan frase “bukan hanya….” tentu tak tepat. Melawan logika dan alur pikiran sehat. Tapi Anies, biasanya tak peduli. Ia selalu memakai frase itu untuk membantah program atau argumen lawan debat.
Menyerang bayangan sendiri
Coba simak apa yang dikatakan Anies ketika debat dengan Ahok pada acara Mata Najwa, Senin, 27 Maret 2017. Ada banyak kesesatan logika Anies yang sangat berbahaya dan merusak cara berpikir anak-anak bangsa bila ditelan mentah-mentah. Beberapa di antaranya akan dikemukakan berikut ini.
Menanggapi Ahok tentang prioritas program, Anies bilang: “yang dibutuhkan warga Jakarta bukan hanya pemimpin yang kuat, bukan hanya birokrasi yang kuat, tetapi justru warga yang kuat, warga yang berdaya, warga yang bisa terlibat…”. Selain itu, yang dibutuhkan Jakarta adalah keberpihakan, yaitu pemimpin yang berpihak kepada kaum yang rentan, tak berdaya dari segi ekonomi, pendidikan, maupun lainnya.
Penjelasan itu tentu saja aneh. Pasalnya, pada pernyataan sebelumnya Ahok tidak pernah menyatakan bahwa satu-satunya kebutuhan adalah pemimpin yang kuat atau pemerintahan dan birokrasi yang kuat. Yang dikatakan Ahok adalah untuk bisa memenuhi kebutuhan otak, perut, dan dompet rakyat ada syaratnya. Pemerintah dan birokrasi harus tertata baik, transparan, dan profesional. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemimpin atau pemerintah dan birokrasi bukanlah satu-satunya kebutuhan Jakarta. Hal-hal tersebut merupakan prasyarat atau alat untuk bisa mewujudkan kebutuhan masyarakatnya.
Itulah yang dimaknai Anies sebagai “hanya” dan satu-satuhnya. Di sini tampak bahwa Anies mengkonstruksi sosok Ahok dengan rupa buruk sebagaimana dibayangkan Anies sendiri, bukan sosok Ahok yang sesungguhnya. Lantas, Ahok hasil konstruksinya itu diserang tanpa ampun oleh Anies.
Tentu saja serangan tersebut tak pernah mengenai diri Ahok. Sebab sasaran serangan Anies bukan Ahok, tetapi Ahok dalam bayangan Anies sendiri. Dengan kata lain, Anies menyerang bayangannya sendiri.
Bagi-bagi uang
Yang bikin orang normal geleng-geleng kepala adalah program KJP plus Anies yang disebutnya akan diberikan kepada semua anak usia sekolah. Padahal KJP ini sebelumnya tidak asal diberikan. Tidak diumbar. Ia diberikan untuk memotivasi anak usia sekolah memasuki atau melanjutkan pendidikan pada lembaga pendidikan formal.
Tapi bagi Anies, hal semcam itu tidak adil karena hanya memerhatikan anak-anak usia sekolah yang bersekolah. Oleh sebab itu ia berencana mencabut peraturan gubernur DKI yang membatasi pemberian KJP tersebut, dan berencana memberikannya kepada semua anak usia sekolah.
Kelihatannya jalan pikiran Anies baik dan adil. Seakan-akan memerhatikan nasib semua anak dan memberikan mereka uang, baik yang bersekolah maupun yang tidak bersekolah. Tapi apakah benar adil? Mendidik?
Inilah yang dikatakan Ahok merusak. Tidak mendidik. Malahan menjauhkan KJP dari tujuannya semula. KJP tidak lagi menjadi alat memotivasi anak usia sekolah untuk memasuki sekolah tetapi menjadi sekedar program bagi-bagi uang bagi anak usia sekolah. Anak usia sekolah sudah pasti berpikir “mengapa harus susah-susah sekolah, tanpa sekolah saja pemerintah memberikan KJP”. Sudah tentu akibat lanjutannya ialah program KJP tidak lagi berorientasi pada meningkatkan kualitas bangsa dan masa depan Indonesia.
Inilah yang dibilang Ahok tidak mendidik, merusak anak-anak, tetapi justru merupakan program unggulan dan akan dipertahankan oleh Anies. Kacau ‘kan?
Menjanjikan ruang
Dengan gaya seorang motivator, Anis melanjutkan pembeberan programnya di depan Najwa. Dia katakan bahwa penduduk Jakarta, hanya 51% yang memiliki rumah. Selebihnya, 49%, sebagian besar di antaranya adalah orang miskin maupun anak baru gede, tidak memiliki rumah.
Di sini orasi Anies sangat memukau. Dia bilang selama ini pemerintah tidak memerhatikan yang 49 persen tersebut. Mereka tidak difasilitasi untuk mendapatkan rumah. Untuk itu Anies merencanakan memberikan ruang bagi 49% penduduk tersebut dengan program pengadaan rumah dengan down payment (DP) sebesar 0 persen atau nol rupiah.
Orang waras tentu saja akan mengerutkan kening setelah mendengarkan penjelasan tersebut. Mengapa? Karena orang waras sudah langsung membayangkan kemungkinan atau kemustahilan mengadakan tanah, lokasi rumah baru bagi 49% penduduk Jakarta yang dikatakan Anies.
Mau bangun rumah di atas Waduk Pluit atau sungai Ciliwung? Tentu tak mungkin. Di atas rel-rel kereta? Pasti mustahil juga. Di lapangan Monas? Ya jelas tak masuk akal. Kalau begitu di mana ruang yang akan dipakai Anies untuk membangun rumah tersebut? Di Jawa Tengah atau Jawa Timur? Ataukah Sumatera? Kalimantan? Papua? Ini yang tak dijelaskan Anies. Dia kira, tanah di Jakarta masih ada yang bisa dipakai menjadi lokasi rumah bagi 49 penduduk. Kacau, bukan?
Untuk itu, saya menyarankan agar siapa saja yang mau berpikir dengan menggunakan otak, janganlah mau dibohongi pakai logika sesat Anies!
Ingat, saran ini hanya berlaku bagi yang mau berpikir dengan menggunakan otak, bukan dengkul!
https://seword.com/sosbud/jangan-mau-dibohongi-pakai-logika-sesat-anies-baswedan/
Menanggapi berita/informasi di atas, "@ahmadsuro" memiliki 5 poin tambahan yang mungkin berhubungan dengan artikel di atas:
1. Langgar Aturan demi bisa Kampanye?

Kehadiran cagub DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan di deklarasi Ustazah Bela Negeri di gedung Dewan Dakwah, Jakarta Pusat, dipermasalahkan Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam) Senen. Petugas Panwascam Leli menyebut lokasi gedung tersebut berada satu lingkungan dengan masjid.
Leli hadir untuk menjalankan tugasnya mengawasi kunjungan Anies di lokasi tersebut. Leli juga mendengar langsung sambutan salah seorang ustazah dinilai menyerang pasangan cagub lainnya.
"Kalau dari kami sudah minta dihentikan. Saya pikir tadi cuma dukungan saja tanpa ada seperti menyerang, itu kan kampanye. Pak Anies nggak mesti ngomong juga, ternyata dia ngomong. Saya sudah minta timses hentikan, tapi saya nggak bisa bertindak juga," ujar Leli di gedung Dewan Dakwah, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (9/3/2017).
Acara tempat berlangsungnya deklarasi tersebut berada di aula gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia atau aula Masjid Al-Furqon. Letak aula pertemuan berada di lantai 2 gedung, dan Masjid Al-Furqon berada di lantai 3 gedung tersebut.
"Mungkin sudah ada warning dari timses bahwa ini nggak boleh di lingkungan masjid. Menurut Peraturan KPU Nomor 12, tidak boleh di lingkungan masjid, apalagi di dalam masjid. Di halaman pun atau aula tidak boleh, ini masuk lingkungan masjid," ujar Leli.
Peraturan Komisi Pemilihan Umum yang mengatur larangan kampanye di tempat ibadah diatur dalam Pasal 66 ayat 1 huruf J PKPU Nomor 12 Tahun 2016 tentang Kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Pasal tersebut berbunyi 'dalam kampanye dilarang menggunakan tempat ibadah dan atau tempat pendidikan'.
Menanggapi pernyataan Panwascam tersebut, Anies menyerahkan masalah ini kepada tim advokasinya. Namun Anies merasa lokasi yang didatangi adalah kantor gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan bukan masjid.
"Biar nanti tim advokasi yang memberikan penjelasan. Setahu saya, ini kantor gedung Dewan Dakwah," ujar Anies kepada wartawan di lokasi yang sama.
Berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pada Pasal 78 huruf i tertuang dalam kampanye dilarang menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan. Kemudian sesuai dengan Pasal 116 ayat 3, tiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana tercantum pada Pasal 78 huruf i diancam dengan pidana penjara paling singkat sebulan atau paling lama enam bulan.
https://news.detik.com/berita/d-3443089/panwascam-senen-kritisi-kampanye-anies-di-gedung-dewan-dakwah
2. Terjebak sama Program sendiri

Calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu oleh Tim Advokasi Jakarta Bersih (TAJI) atas dugaan melakukan pelanggaran kampanye Pilkada. Dalam aduannya, TAJI menduga Anies melanggar Pasal 73 ayat 1 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada.
Cagub yang diusung Partai Gerindra dan PKS itu diduga melakukan pelanggaran saat menyampaikan janji pemberian dana Rp1 hingga 3 miliar bagi tiap Rukun Warga (RW) di ibu kota saat berkampanye di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Rabu (8/3) kemarin.
"Saat itu beliau menyampaikan bahwasanya ada menjanjikan Rp1 miliar per RW, bahkan lebih akan diberikan hingga Rp3 miliar. Menurut kami itu tidak masuk akal dan mungkin arahnya mau ke politik uang. Kedua, Anies tak pernah malaporkan program kerjanya ke KPU tentang Rp1 miliar per RW," ujar advokat TAJI Aidil Fitra di Kantor Bawaslu DKI, Kamis (9/3).
Menurut catatan pelapor, tawaran program dana untuk tiap RW dari Anies disampaikan kala ia berkampanye di Markas Komando GL Pro 08, Utan Kayu Utara.
TAJI mengklaim membawa bukti berupa rekaman video dan lampiran berita tawaran uang untuk tiap RW saat menyampaikan aduannya. Mereka mendesak Bawaslu DKI segera menindaklanjuti laporan tersebut.
"Kami percaya karena Ketua Bawaslu pernah mengungkapkan itu di media, dan dia mempersoalkan kampanye AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), dan ini yang kedua kali. Peristiwa ini mestinya jadi catatan Bawaslu juga bahwa ada dua kali pelaporan kasus dan isu yang sama," tuturnya.
Bawaslu DKI berjanji akan mengusut laporan tersebut hingga lima hari ke depan. Jika terbukti bersalah, Anies-Sandi terancam sanksi administrasi pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota.
3. Gunakan Masjid untuk kalahkan Ahok-Djarot

Sosok tersebut mengemukakan pelajaran yang bisa ditarik dari kemenangan Partai Keselamatan Islam atau FIS di Aljazair. Menurutnya, berdasarkan suatu analisis, FIS bisa menang lantaran mengandalkan jaringan masjid.
"Sejumlah khatib, para ulama, ustadz yang mengisi kegiatan-kegiatan di masjid, termasuk dan terutama salat Jumat, bukan hanya menyerukan ketaqwaan, tapi dilanjutkan dengan seruan-seruan politik," ujarnya.
Meski demikian, seruan politik yang dimaksud bukanlah seruan partisan.
"Kalau seruan partisan itu begini, 'pilih si A, jangan pilih si B'. Bukan seruan itu yang disampaikan. Khatib menyampaikan 'Hai kalian umat Islam. Kalian punya hak. Tiada orang lain yang akan menjaga dan menegakkan hak itu, kecuali kalian sendiri'…Saya ingin itu menjadi alat untuk mengalahkan Pak Ahok. Secara pribadi, secara pribadi," paparnya di hadapan hadirin.
BBC Indonesia berupaya menghubungi Eep Saefulloh Fatah, namun tidak mendapat respons. Akan tetapi, Vera, seorang anggota tim pemenangan Anies-Sandi membantah bahwa pasangan calon nomor tiga itu menjalankan kampanye di masjid.
"Itu sebagai tamu saja. Karena pada dasarnya mereka ke gereja atau apa, bukan berkampanye. Biasanya itu mereka jadi imam atau makmum dan diundang biasa. Kandidat lain juga begitu," sebutnya.
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39494240
4. Anies mirip Kristus?
Manipulasi ayat-ayat kitab suci dalam pilkada gubernur DKI Jakarta semakin brutal. Terbaru, salah seorang wanita sexy yang mengaku pengijil bernama Rita Tiara Panggabean mengklaim seluruh pendeta di Jakarta mendukung pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Alasannya, Anies mirip Yesus. “Saya memilih Anies-Sandi karena keduanya memilih hati seperti Kristus Yesus,” ujar seorang penginjil bernama Rita Tiara Panggabean dari
Barisan Anak Surga (BAS) Oikumene Ministry seperti dikutip dari akun instagram Rita Tiara
Panggabean https://www.instagram.com/p/BSbfO5elW2I/?r=wa1 yang dikutip gerilyawan di Jakarta, Selasa (4/4).
Dalam vidio itu, Rita mengaku mendukung Anies-Sandi karena memiliki hati seperti Kristus yaitu kasih. “Kasih itu lemah lembut, kasih itu murah hati, kasih itu panjang sabar,” imbuhnya.
Dia melihat karakter dan kepribadian Anies-Sandi mirip Yesus Kristus. Tutur katanya menyejukan yang bisa menyatukan perbedaan. “Kami sebagai umat Kristen yang m meninginkan agar dibawah kepemimpinan Anies-Sandi adanya kesejajaran hak kami,” tuturnya.
Berita tentang dukungan para pendeta Kristen terhadap Anies-Sandi pertama kali dilansir oleh media online milik taipan Hary Tanoesoedibjo.
Hary Tanoesoedibjo sendiri adalah pendukung dan salah satu penyandang dana bagi Anies-Sandi. Bahkan seluruh media milik taipan asal Surabaya ini diperintahkan untuk menyerang Ahok-Djarot.
Sekedar catatan, Yesus Kristus menurut ajaran Kristen adalah Juruselamat dunia dan Putra Allah. Dia adalah Penebus dosa dunia. Ini menunjuk pada kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan menuju hidup bersama Bapa Surgawi.
Dukungan terbuka wanita sexi ini terhadap Anies-Sandi menjadi bumerang bagi umat Kristiani yang dari segi jumlah sangat minoritas di Indonesia. Hal ini bisa memantik konflik baru. Maklum, politisasi SARA dalam pilkada DKI Jakarta sangat menonjol. “Membawa-bawa agama ke ranah politik saya kira itu luarbiasa biadabnya,” ujar seorang pemuda beragama Kristen, Michael saat ditemui gerilyawan di bilangan Tebet, Selasa (4/4).
Michael sangat menyesalkan sikap segelintir orang yang tamak akan kekuasaan menggunakan instrumen agama untuk mencapai tujuan. Apalagi, membandingan seorang cagub (Anies Baswedan) dengan Yesus Tuhan yang merupakan sumber kebenaran bagi umat Kristiani. “Bagi saya pribadi, menyamakan Anies dengan Yesus sangat menistakan agama Kristen. Untuk itu, saya minta pelacur-pelacur politik untuk stop menjual agama demi meraup materi (uang-Red). Ini ulah mereka yang mencari uang dengan menjual agama,” tuturnya.
Rekan Michel, Yosep Batista menilai, membawa nama agama demi mencapai kepentingan politik praktis bisa merusak kohesi sosial yang sudah terjalin baik diantara umat beragama. Pasalnya, agama itu sesuatu yang suci sehingga tidak boleh diperdagangan hanya untuk kepentingan politik “Jadi jangan merusak agama demi kepentingan politik. Nggak boleh menjual agama demi uang. Ini model politik busuk yang memecah belah umat agama,” ucapnya.
Dia menuturkan bahwa Agama Islam, Kristen, maupun agama lain mengajarkan kesantunan dan adab. Untuk itu, jangan menodai kesucian agama itu. “Perbedaan preferensi politik itu biasa dalam alam demokrasi, tapi jangan dijadikan ajang menyebar fitnah, hingga membawa-bawa agama,” tuturnya.
Tiara sendiri seperti dilansir salah satu media online pendukung Anies-Sandi menjelaskan, alasan utamanya memutuskan untuk mendukung Anies-Sandi adalah karakter kasih yang dimiliki keduanya. Sehingga meyakini bahwa Anies-Sandi memiliki komitmen untuk memenuhi hak-hak kaum minoritas.
Namun reputasi Rita Tiara Panggabean sebagai penginjil dipertanyakan banyak nitizen. Apalagi dalam akun jejaring sosial milik Rita Tiara Panggabean terpampang sejumlah photo hot yang mempertontonkan aurat sehingga membuat nitizen menganggapnya tidak layak disebut sebagai penginjil.
Bahkan sebuah akun di twitter @kawanuaDKI membantah kalau Rita Tiara Panggabean adalah seorang pendeta. Bahkan akun itu menyebarkan foto-foto Rita Tiara Panggabean dengan pose seksi dan seronok. Tentu saja umat Kristian tidak mau kalau pemuka agamanya dikaitkan dengan kelakuan Rita Tiara Panggabean. Apalagi ditambah dengan politisasi Rita Tiara Panggabean atas gereja, pendeta dan se-DKI lagi.
http://www.beritamoneter.com/pendeta-pendukung-anies-sebut-anies-mirip-yesus/
5. Program Anies tidak masuk akal

Cagub DKI Basuki T Purnama ( Ahok) dan Anies Baswedan bertarung gagasan dalam program televisi Mata Najwa di Metro TV. Salah satu yang dibahas adalah tentang program rumah murah untuk rakyat Jakarta.
Ahok mengkritisi tentang program down payment (DP) nol rupiah yang digagas oleh Anies Baswedan. Ahok menilai, tidak mungkin ada DP nol rupiah karena terbentur aturan perbankan. Terlebih, dia juga mengkritisi data Anies Baswedan yang bilang ada harga rumah Rp 350 juta di Jakarta.
Menurut Ahok, tidak mungkin pemerintah membayar Rp 350 triliun hanya untuk memberikan rumah kepada warga. Data Rp 350 T dari pernyataan Anies yang menyebut ada 1 juta warga DKI tak punya rumah dikali dengan harga rumah Rp 350 juta.
"Tidak mungkin Pemda bayar Rp 350 triliun," kata Ahok di Metro TV, Senin (27/3).
Ahok sendiri punya program khusus buat rumah tinggal bagi warga Jakarta. Bagi yang penghasilan Rp 3 juta tinggal di Rusun, penghasilan Rp 7 juta tinggal di kos, sementara Rp 10 juta tinggal di rumah.
"Kita subsidi seumur hidup (tinggal di rusun)," kata Ahok.
Anies pun menjawab dengan santai. Soal aturan, bisa dibicarakan dengan pihak perbankan. Dia yakin, aturan DP nol rupiah bisa direalisasikan. Dia pun meluruskan, bahwa data Ahok Rp 350 T tidak benar, menurut dia, yang dibantu Pemda hanya soal DP saja, bukan belikan rumah kepada warga.
"Tapi DP-nya," kata Anies.
Ahok pun kesal, dikritisi Anies tentang pembebasan pembayaran BPHTB dan PBB. Ahok menegaskan program itu bukan baru dilakukan, tapi sejak satu tahun lalu. Ahok berharap, Anies tak menggunakan janji yang tidak mungkin direalisasikan hanya demi Pilgub DKI.
"Saat itu Pak Anies belum punya niat jadi gubernur, masih jadi menteri," serang Ahok.
Anies lagi-lagi menjawab santai. Ini merupakan karakter Ahok yang tak putus asa tak memberikan solusi bagi warganya.
"Tipe yang putus asa, tidak perlu nyerang pribadi, tidak perlu emosi Pak Ahok," jawab Anies.
https://www.merdeka.com/politik/ahok-nilai-tak-masuk-akal-program-dp-rumah-nol-rupiah-anies-baswedan.html
NB: Artikel ini dibuat oleh ahmadsuro dengan tanggungjawab penuh diserahkan kepada ahmadsuro. Pihak dari situs Forumdjakarta.com tidak bertanggungjawab atas isi dari artikel ini.
(Sumber : Itusalah.com )
Komentar
Posting Komentar