"Netizen ini bungkam Anies Baswedan.. Bukti telak bahwa levelnya sebatas Mantan Jubir..."

Jujur bicara?, profesi yang saya belum tahu berapa penghasilannya, tapi pekerjaan ini hanya berat saat sudah merasakan kegalauan, hehehe, selebihnya ringan-ringan saja, apalagi sudah terlatih berjam-jam ngomong di depan publik, dan sering gonta-ganti tungangan kendaraan politik. jadi sama saja dengan profesi lain, misalnya penulis, kalau sudah sering-sering dan tajam-tajam tulisannya, maka pembaca akan merasakan ketajaman itu adalah ciri khas, dan yahh..biasalah..gitu.

Nah, cuman ada beda, kalau juru bicara ini akan mencoba mengambil alih profesi lain, misalnya seperti ingin menjadi gubernur, apa yang bisa dilakukan oleh si Juru bicara ini?, tentu masih ada kaitanya skill berbicara dengan jabatan gubernur. sebab gubernur itu akan sering-sering berpidato dan menjelaskan banyak hal, maka kemampuan berbicara sangat penting. Jadi masih sangat nyambung.

Tapi, meski masih nyambung, tentu ada saja bedanya, dan memang skill berbicara ini tidak berimbang dengan ilmu pemerintahan maka jadinya adalah blepotan alias bisa hanya retorika saja, ngawur dan mungkin bisa menghabiskan anggaran bahkan lebih dari 2,3 Trilyun hanya untuk berbicara. Bayangkan coba. tapi jangan dibayangkan, pastinya sangat ngeri. bagaimana tidak, kalau misalnya diminta pendapatnya untuk menjelaskan kenapa macet belum juga selesai di jakarta?, apa jawab sang Mantan Juru Bicara ini?, Kemungkinan besar jawabannya disambut oleh retorika, misalnya “Wahai wargaku yang kuat dari segala penderitaan, macet kita akan permak menjadi nilai seni, aku akan jadikan lukisan yang mengisahkan betapa tabah dan setia warga meski macet mendera”

Dan kalau warga bertanya lagi “Apa yang bisa kita lakukan dengan macet-macet begini?”, maka mungkin dijawabnya “Hanya orang-orang sabar bersama Alllah, gunakan waktu sebaik-baiknya, jika macet, ambilah buku dan bacalah, resapi kata-katanya atau bagi yang muslim lantunkan ayat-ayat Allah dalam suasana macet, biar banyak yang dapat hidayah”…. Nah loh… bagaimana kalau sekiranya begitu cara respon sang mantan Juru Bicara Capres tahun lalu?. ahh.. ngak kebayang deh..jangan dibayangkan, karena ia pun akan menjadi Mantan-mantan lain setelah mantan menteri.

Juru bicara sebenarnya penting, tinggal bagaimana sang juru bicara bisa menggunakan keahliannya itu hanya demi bangsa ini, kalau untuk diri sendiri terjadi masalah, sebab nuraninya akan sering kontradiksi atau terbentur dengan cita-cita bangsa bukan cita-cita ambisi pribadi dan golongan, maka jangan heran jika ada mantan juru bicara capres ketika berambisi menjadi gubernur lalu saingannya adalah orang yang paham benar Jakarta dan segala administrasinya sehingga benar-benar mampu dengan usahanya ini untuk melakukan perbaikan, akan dibuat sempoyongan, maka itulah mungkin segala cara ingin dilakukan demi tercapainya menjadi gubernur.. wow…bayangkan.. dengan modal bicara menuju gubernur!!

“Pemuda menawarkan masa depan” pernah dengar kalimat ini?, mungkin kalimat ini sangat bagus, itulah retorika, tapi untuk menuju masa depan pemuda perlu wawasan dan pengalaman menuju masa depan sehingga tidak salah langkah. maka dari itulah, saat ini kalau buat jargon seperti itu tidak tepat lagi, coba kalau dipakai saat kampanye calon gubernur dan wakil gubernur . misalnya “Menjadi gubernur bukan masalah pengalaman, tapi masalah kesantunannya, jika santun berarti gubernurnya baik, jika galak berarti gubernurnya kejam” Nah… pasti kaum bumi datar dan titik-titik akan kegirangan dengan kalimat-kalimat seperti itu. tapi lagi-lagi, kaum waras pastilah tahu benar bahwa santun pun bisa menjadi kosmetik yang penuh bahan baku septik...iiihhhh…ngerii ya?

Dan bagaimana hebatnya kata-kata itu di depan masyarakat awam?, saat kampanye kita akan sering saksikan para juru bicara beraksi, “Aku semakin tidak yakin untuk memilih orang yang sudah banyak menghabiskan uang entah berapa banyak untuk beriklan dan membiayai banyak pendukungnya untuk demi tercapainya ambisi politiknya” Lalu si mantan juru bicara ini melirik ke calon wakil, iihhhh….apa jadinya ya?, saya yakin akan berantem…hehehehe

Masyarakat Jakarta sudah berpengalaman dengan kampanye, dan masyarakat jakarta hanya butuh perbaikan tatanan kota, kenyamanan kota, termasuk kebersihan hingga kota ini menjadi kota yang sangat dibanggakan. maka dari itu masyarakat sudah tahu siapa yang mampu melaksanakan program dan siapa yang hanya mampu beretorika atau berbicara serta hanya mampu mencari kelemahan dan kesalahan saingan dengan membiarkan agama dipolitisasi.

Memang pilkada kali ini sangat seru, sebab kata-kata sangat banyak bermain, meski baliho, spanduk dan media cetak lainnya masih dipakai, akan tetapi kata-kata pun punya power, maka dari itulah si Mantan Juru Bicara ini begitu percaya diri ingin memimpin masyarakat, padahal kerjaan yang dulu belum kelar-kelar…ehhh…keburu sudah dipecat. Kalau karyawan kecil seperti saya dipecat mungkin masih bisa dijelaskan meski akhirnya sulit mencari penghasilan karena tidak bisa jadi juru bicara kayak si Pandji, kalau si mantan juru bicara dipecat masih punya rumah gede dan sekarang banyak yang bayarin untuk jadi calon gubernur..hebat ya?, kenapa ya ngak dari dulu ane belajar jurusan khusus berbicara saja?…hikz..

“Jangan sepelekan kata-kata, karena kata-kata punya makna yang dalam“, sedalam apapun makna dari kata kalau kata-kata itu loncat sana loncat sini, manuver sana manuver sini, sok santun sana santun sini tapi tidak sinkron dengan harapan masyarakat, maka tetap saja makna dan kata saling bergesekan seperti suara biola yang dimainkan oleh orang yang baru belajar dan suaranya melengking ngak enak.. kayak gigi tiba-tiba ngilu…iihhh…serem ya?

Jika saya jadi juru bicara misalnya mungkin saya hanya mampu membuat pantun saja, misalnya begini :

“jalan-jalan di tanah abang, beli rumah sayang abang,

Tanpa DP hati senang, tapi rumah-rumahan pengen pingsan”

atau… buat quotes aja ya?, misalnya :

“Sebuah demokrasi akan tetap berlanjut bukan karena jakarta bersyariah makin kendur, tapi karena sang mantan juru bicara mau mengakui bahwa retorika alias omong doang tidak cocok untuk membenahi banjir, macet dan permasalahan kemiskinan warga.. Bila mau move on dan menerima diri sebagai orang yang harus belajar kepekaan rakyat maka demokrasi yang terbaik buat negeri ini berlanjut, dan tahun-tahun mendatang masih ada peluang bisa mencalonkan lagi”

Sungguh menarik ya kalau jadi juru bicara?, kira-kira apakah setelah menjadi juru bicara maka daya atau kepakaan sebagai penulis berkurang seperti juru bicara paslon nomor buntut yang sudah tidak lucu lagi?, mmhhh.., kalau karena menjadi juru bicara tulisan ngawur mending saya ngak jadi ah, mending jadi juru tulis saja, misalnya menuliskan bagaimana raut wajah seseorang ketika sedang ngeyel, dan ini pun harus dibedakan, gaya ngeyel seorang Doktor?, gaya ngeyel anak kecil, dan gaya ngeyel politisi serta juru bicara itu sendiri. Nah menarik kan?, tentu banyak kata yang bisa digulirkan untuk mengungkapkan garis-garis wajah ngeyel, ketika sedang diwawancarai atau ketika sedang ikut debat, wow… banyak sekali kosa kata yang bisa dirangkai..

Dan pada akhirnya banyak yang akan menjadi mantan, misalnya mantan pacar (kini sudah jadi istri), mantan preman (Bisa saja kini menjadi ustad), mantan ustad (bisa saja karena fulus, politik dan wanita, masyarakat menghukumnya dan tidak diakui lagi), mantan terdakwa (nah ini bisa statusnya berubah menjadi orang yang tidak bersalah lagi), semoga Koh Ahok bebas tenang dan fokus bekerja untuk Jakarta. Dan apakah ada mantan penulis?, saya kira ngak ada deh, penulis selama ia menulis tetaplah penulis, kalau mantan juru bicara paslon nomor 3? yahh…sebentar lagi akan pensiun dan tidak lucu lagi.. hehehee.. stress dia kak..Emm…

https://seword.com/umum/mantan-juru-bicara-ingin-jadi-gubernur/

NB: Artikel ini dibuat oleh Ria Utami dengan tanggungjawab penuh diserahkan kepada Ria Utami. Pihak dari situs Forumdjakarta.com tidak bertanggungjawab atas isi dari artikel ini.

(Sumber : Itusalah.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah 7 Makanan Penurun Gula Darah Dalam Tubuh

Inilah 8 Cara Berdandan Terlarang Bagi Muslimah

Inilah Orang-orang yang Disukai Dajjal dan Akan Menjadi Pengikut Dajjal Kelak... No.1 Sangat Mengejutkan Kita Semua!!